MainPersonal InfoInterestsRandom FactsJournal
17 Aug 2005
Bus Ini Tidak ke Mana-Mana

Kesadaran itu hadir tiba-tiba dan aku panik.

Kutengok kiri dan kananku. Orang-orang dengan kesibukan masing-masing. Bapak berkemeja batik dan anak gadisnya (atau pacarnya; kita tidak bisa memastikan akhir-akhir ini) yang hangat berdiskusi dengan air muka serius. Ibu bercelana panjang jins yang setiap lima menit mengangkat tangan dan mengagumi (atau mengundang orang-orang untuk mengagumi) cincin di jari manisnya. Dua perempuan cilik yang membaca komik sambil tertawa-tawa.

Bus ini tidak ke mana-mana.

Tidakkah orang-orang ini sadar? Akukah satu-satunya?

Aku menjulurkan leher dan memandang rambut gondrong sang pengemudi. Apa yang ada di pikirannya? Duit setoran hari ini? Rumah kontrakan yang harus segera dibayar? Sepatu merah untuk anaknya?

Di belakang pengemudi rambut gondrong, dua orang pemuda bertopi saling bertukar cerita. Film Indonesia terbaru di bioskop? BlackBerry? Betapa indahnya betis mbak-mbak di samping mereka?

Hai, kalian! Bus ini tidak ke mana-mana!

Aku menoleh ke belakang. Anak kecil itu diapit kedua orang tuanya. Ia tersenyum kepadaku. Aku tersenyum balik. Anak yang malang, dia tidak tahu. Sang ibu ikut tersenyum sementara sang bapak menatapku curiga. Curigailah sesamamu sebelum kau dicurigai. Kutunjuk pergelangan tanganku yang telanjang. "Lima kurang sepuluh," katanya. Kuanggukkan kepala.

Apa yang kulakukan di sini? Bagaimana aku bisa demikian bodohnya? Orang-orang ini, apa yang mereka tunggu? Aku merasa muak. Akan lebih baik apabila tiada seorang pun yang menghiraukan aku. Sayangnya, kehormatan itu pun tak kumiliki, berkat bapak bertatapan curiga itu.

Cukup!

Aku berdiri dan terhuyung-huyung berjalan ke depan. "Bang," kataku, "aku mau turun sekarang."

Pengemudi gondrong memandangku. "Ini jalan tol, Mas." Digeleng-gelengkannya kepala.

Kuulangi, "Bang, aku mau turun sekarang." Bus ini tidak ke mana-mana.

Pemuda bertopi menghardikku. "Mas, gimana sih? Ini kan jalan tol!" Temannya memelototiku. Pengemudi gondrong menegakkan posisi duduknya, sibuk membagi perhatian antara aku dan jalan di depan.

Aku berpaling. Orang-orang mulai memperhatikanku. Bertanya-tanya. Aku mencoba lagi. "Tolonglah, Bang. Hentikan bus ini."

Mbak-mbak berbetis indah berkata merdu, "Mas sakit ya?"

"Mau boker mungkin," kata pemuda bertopi. Temannya tertawa. "Sabar, Mas, di depan ada WC itu."

Aku menggeleng dan kembali ke tempat dudukku. Anak gadis (atau mungkin pacar) sang bapak berbatik tampak berbisik-bisik. Ibu berjins dan bercincin mengangkat tangan dan dengan dramatis meletakkan satu jari di kening. Dua perempuan cilik tak lagi membaca komik.

Aku duduk namun berusaha mencari jalan keluar. Keluarga di belakangku seperti salah tingkah. Kalau saja bus ini tidak penuh mereka pasti telah pindah ke kursi lain. Aku tidak peduli. Yang terpenting saat ini adalah keluar dari sini.

Pintu belakang!

Setengah berlari aku meraih pegangannya. Sepasang lengan yang kuat menahanku. "Kamu gila ya? Mau lompat keluar bus?"

Aku meronta dan berhasil memutar pegangan pintu. Tidak ada yang terjadi. Bus yang tidak ke mana-mana dengan pintu yang tidak terbuka.

"Tahan dia!" pengemudi gondrong berseru panik. "Ada polisi di depan, pintu tidak boleh dibuka!" Asistennya yang juga gondrong (mungkinkah bus ini dikelola Paguyuban Rambut Gondrong?) berlari mendapatkanku dan dengan kasar merenggut lengan bajuku. "Jangan cari masalah. Ayo duduk!"

Kutarik lenganku. Lengan bajuku koyak. Asisten gondrong meletakkan satu tangan di pundakku. Kutepis. Sepasang lengan kuat menarikku. "Lepaskan!" kataku.

"Kamu cari gara-gara!"

"Aku hanya ingin turun. Lepaskan aku!"

Kuayunkan kepalanku dengan liar. Pemilik sepasang lengan kuat mengaduh dan lengannya tak lagi kuat. Kudorong dia menjauh. Asisten gondrong menghempaskanku ke pintu. Gagangnya menghantam rusukku. Sepasang tangan lain memegangi pundakku.

"Pak, tolong, Pak! Bantu saya pegang dia!"

Satu pasang tangan lagi membantu. Aku berteriak dan memukul sekenanya. Rusukku sangat ngilu. Sekonyong-konyong sebuah tinju mendarat di pipiku. Dan sebuah lagi. Dan lagi. Lagi.

"Iya, Pak, pukul saja! Orang gila ini!"

Aku jatuh terduduk di lantai. Dengan sekuat tenaga kujejakkan kedua kaki ke pintu. Brak! Pintu bergetar namun tidak terbuka. Bertubi-tubi pukulan dan tendangan menghujaniku yang kini terbaring.

"Dasar orang gila lu!" bentak asisten gondrong. "Lu mau keluar? Nih! Keluar sono!" Dengan gampangnya ia membuka pintu yang tak mau terbuka. Angin menerpa wajahku. Bus terus melaju, kian kencang.

Bus ini tidak ke mana-mana.

Dengan tenaga yang tersisa aku berguling keluar.

Lagi dengerin: nggak ada
Lagi ngerasa: gembira

Posted in Fiction 2005 by at 2:13 AM WIB
Comments

hm
seperti biasa, kecepetan baca arsip, jadi kelewat... baru nyimak entri yang ini...

metafora yang keren :)

Posted by on Jun 18, 2006 1:39 PM WIB

Yah, gitu deh...

Posted by on Jun 18, 2006 2:10 PM WIB
Post a Comment

(sorry, it's the spam)