Duma Sayang,
Jangan tertawai aku karena menulis surat ini. Ya, ya, aku tahu, memang aneh rasanya nanti ketika engkau membacanya. Terserah, aku tidak peduli. Aku hanya ingin berterima kasih atas segala sesuatu yang telah kau berikan selama ini.
Dibacanya sekali lagi paragraf yang telah ditulisnya dan ia pun tersenyum pahit. Mengapa tidak dari dulu kutulis surat ini, demikian pikirnya. Dengan lincah jemarinya pun bermain di atas keyboard. Pengalaman chatting bertahun-tahun telah memberinya kemampuan ini.
Terima kasih telah menjadi suami yang demikian penyabar. Aku tahu, aku bukanlah istri yang ideal. Setidaknya ideal bagimu. Begitu sering aku egois dan tidak memedulikan perasaanmu. Aku selalu ingin bercerita tentang hariku, sementara apa yang terjadi denganmu jarang menarik perhatianku. Aku ingin kita selalu menuruti usulku, sementara mungkin ada beberapa usulmu yang tak mau kudengar yang lebih baik.
Ingatkah kau ketika hari itu aku menyuruhmu pulang cepat karena aku sakit? Padahal kau sudah berniat lembur karena hari berikutnya pekerjaanmu sudah harus selesai? Setelah sia-sia berusaha menjelaskan kepadaku betapa pentingnya pekerjaan itu, kau pun mengalah. Bahkan sempat mampir di apotek dan membelikan aku obat sakit kepala. Kini aku mengaku bahwa sebenarnya aku tidaklah sesakit itu. Hanya sedikit terlalu lelah, sama sekali tidak ada yang perlu dirisaukan. Maafkan aku, Sayang.
Kali lain, aku memaksamu tinggal di rumah hanya karena aku tidak mau ditinggal sendirian. Padahal kita berdua tahu Sabtu pagi adalah jadualmu bermain tenis bersama teman-temanmu dan sudah beberapa Sabtu terakhir kau selalu berhalangan karena ini dan itu. Kita pun bertengkar dan seperti biasa akhirnya kau mengalah.
Oh, dan ingatkah ketika aku ngambek karena engkau menolak membelikan sepatu mahal itu sebagai kado ulang tahunku? Alasanmu adalah kita sedang menabung untuk membeli rumah. Aku merasa itu konyol karena toh dengan keluarnya uang sejumlah itu pun tidak berarti kita tidak akan dapat membeli rumah. Itu dulu. Kini aku mengerti perasaanmu dan betapa egoisnya diriku.
Ia pun menghela nafas. Yang hendak ia tulis selanjutnya terasa berat. Namun semuanya harus keluar, ia telah berjanji kepada dirinya sendiri.
Maafkan aku yang selalu mengeluhkan ibumu. Segala tindakannya kuanggap secara pribadi ditujukan kepadaku, untuk membuatku kesal belaka. Berulang kali dengan sabarnya kau berusaha membuatku mengerti bahwa memang begitulah sifat ibumu. Bahwa engkau sendiri sudah berkali-kali bertengkar dengannya demi membuatnya lebih menghargaiku. Bahwa akhirnya yang terbaik adalah mengalah dan berusaha memahami dan tidak menganggap semua itu serangan personal.
Duma Sayang, sekarang aku mengerti. Aku bisa melihat bahwa yang selama ini kau katakan tentang keluargamu adalah benar. Mereka tidaklah membenciku, hanya teramat menyayangimu. Dan aku berjanji akan berusaha menerima dirimu dan keluargamu apa adanya, seperti selama ini engkau selalu berusaha memahami dan menerima diriku yang rewel, manja, dan cengeng ini.
Terima kasih telah memilihku sebagai pendamping hidupmu. Biarlah segala yang pernah kita pertengkarkan ada di masa lalu. Terima kasih atas besarnya toleransimu. Aku tak akan pernah sanggup kehilanganmu. Sayang, bantulah aku membuang sifat-sifat burukku ini. Bantulah aku menjadi dewasa sepertimu.
Ia berhenti dan membaca semuanya lagi dari atas. Masih banyak yang ingin diungkapnya. Terlalu banyak. Sambil menggelengkan kepala ditekannya tombol Control dan S. Sudahlah, pikirnya. Dan diketiknya kata-kata penutup.
Selamat ulang tahun, Sayang.
Yang mencintaimu,
El--
"DUMA!"
Duma tersentak dan mengangkat pandangannya dari layar monitor.
"Apa-apaan sih kamu ini! Dari tadi dibiarkan saja ternyata cuma buang-buang waktu! Kamu ini memang begitu kok, selalu bikin orang kesal!"
Ia membuka mulut hendak membantah. Dan seperti yang kian sering terjadi, ia pun mengurungkan niatnya. Tanpa bicara ia menutup piranti pengolah kata itu, mematikan monitor, dan berdiri lambat-lambat.
"Kamu ini, sudah dibikinkan rencana bagus-bagus malah begitu. Ayo cepat, teman-temanku sudah menunggu ini! Dasar lelaki tidak tahu berterima kasih! Sama sekali tidak menghargai jerih payah orang yang menyiapkan pesta ulang tahunmu. Siapa suruh tadi pagi main tenis lagi! Sudah dibilang tidak usah. Heran, susah sekali diberi tahu..."
Lagi dengerin: Happy Tree Friends theme
Lagi ngerasa: gembira
wah ini kedengarannya seperti saya ya hmmm
Duma, lagi gapai sekarang ...











