Abis bersih-bersih di HS, nemu ginian. Berhubung dibuang sayang, daur ulang aja deh di sini.
"...maka kita harus tahu rumus mana yang sebaiknya digunakan. Lintasan benda ini berbentuk kurva dengan persamaan..." Pak Jaya memindahkan spidol ke tangan kirinya, lalu melanjutkan menulis di papan tulis.
Komar menguap dan mengalihkan perhatiannya ke sekeliling. Di sebelah kirinya Dirman nampak tekun dengan buku teks di hadapannya. Pensil di tangannya bergerak lincah, menggambar kurva -- yang berwujud salah satu karakter Dragon Ball. Komar terkekeh pelan.
"Kok nggak bosan-bosan sih menggambar Goku," bisiknya.
"Gohan," gumam Dirman tanpa mengalihkan pandangannya dari halaman buku teks yang kini telah penuh dengan coretan yang, harus diakui, cukup bagus. Anak bertubuh kecil dan berkaca mata itu memang berbakat dalam bidang menggambar.
"Apalah." Kini Komar memandang Sudi di sebelah kanannya. Temannya yang ini pun sibuk memainkan pensil. Bukan gambar yang dibuatnya, melainkan berbaris-baris -- program. Komar menggeleng-geleng. "Dasar anak komputer."
"Sudah, diam saja. Tugas Konsep Pemrograman nih. Nanti kau boleh ngopi," balas Sudi, tahu benar akan kebiasaan temannya yang satu ini.
"Bagus, bagus."
Di depan Komar, Ana dan Fani sibuk berbisik-bisik sambil menuding-nuding ke arah papan tulis. Komar mengerutkan kening. Ia tidak menyangka kedua temannya itu begitu menaruh perhatian pada -- "...yang biru nanti menyilang dari kiri atas ke kanan, sampai
ke pojok bawah situ..." Eh? Komar mencondongkan badannya, berusaha mendengar lebih jelas.
"Iya deh, Fan, nanti elu gue dukung deh jadi ketua panitia wisuda," kata Ana sambil menepuk-nepuk bahu Fani, yang nampak penuh semangat.
Oohhh. Komar tersenyum lega dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ternyata teman-temannya masih normal.
Tidak semua peserta kuliah Fisika siang itu separah teman-teman Komar di atas, tentu. Di dua baris terdepan anak-anak dengan serius mengikuti kuliah -- paling tidak mereka nampak serius. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak yang berasal dari luar Jakarta. Memang anak-anak Jakarta bejat semua, pikir Komar geli. Ia sendiri termasuk yang stadiumnya paling tinggi.
Menjelang akhir semester pertama mereka, anak-anak angkatan 94 mulai menunjukkan karakter asli masing-masing. Contohnya si Kerempeng, yang duduk di sebelah tembok, dua kursi dari Dirman. Ketika baru masuk kuliah, ia termasuk yang paling rajin menghadiri
kuliah dan mengerjakan tugas. Sempat diisukan sebagai mantan pelajar teladan se-Cirebon, ia kini termasuk yang paling malas dalam kedua kategori itu. Sekarang pun ia sedang tertidur dengan nyenyak sambil bersandar di dinding. Kepalanya terdongak dan mulutnya terbuka.
Komar celingukan, mencari benda untuk dimasukkan ke mulut temannya yang mengundang itu. Akhirnya ia merobek sedikit tepi kertas yang sedang ditulisi Sudi. Sudi melotot namun kemudian tersenyum mendukung ketika menyadari niat nakal temannya. Komar meremas-remas robekan kertas itu dengan jarinya menjadi gumpalan kecil, lalu membidik.
Sisko, yang duduk di sebelah Kerempeng, mendahuluinya. Anak yang terkenal iseng itu membuka sepotong permen karet, memasukkan permen ke mulutnya sendiri, dan memasukkan kertas pembungkusnya ke mulut Kerempeng.
Kerempeng terbatuk dan terbangun dari mimpinya yang entah apa. Komar dan anak-anak lain yang melihat kejadian itu tertawa tertahan. Masih cukup keras untuk membuat sang dosen berpaling dari papan tulis.
"Ya, ada apa?" tanyanya. Matanya menyapu sekeliling ruangan dan akhirnya berhenti di wajah Komar, yang setengah mati menahan tawa. "Marco?"
Dosen Fisika ini dianggap jenius oleh sebagian besar anak 94. Selain mampu menulis -- dan menggambar -- baik dengan tangan kanan maupun kiri, ia mampu mengingat nama dan wajah sekitar lima puluh mahasiswa yang mengambil mata kuliahnya. Mengagumkan, mengingat ia sebenarnya adalah dosen dari Fakultas MIPA, yang sedikit sekali berinteraksi dengan anak-anak Fasilkom.
"Nggak ada apa-apa kok, Pak," kata Komar, mukanya memerah. Dengan sudut matanya ia dapat melihat Kerempeng menatapnya marah, jelas mencurigai Komar yang tadi tertawa paling keras.
Pak Jaya masih menatap Komar selama beberapa saat, kemudian kembali menghadap ke papan tulis dan melanjutkan menulis -- kali ini dengan tangan kanan. Komar menghembuskan nafas. Meskipun terkenal bandel sejak SMP, ia senantiasa menghindari masalah dengan para pengajar. Tidak ada untungnya, demikian selalu ia berkata.
Di kursinya, Kerempeng, yang nampaknya belum bangun sepenuhnya, menatap Sisko, yang menampilkan raut muka tak berdosa dan dengan serius mengangguk-angguk, seolah-olah mengerti sepenuhnya apa yang dikatakan Pak Dosen. Beberapa menit kemudian Kerempeng kembali terlelap, menikmati sisa kuliah yang masih lima belas menit lagi. Lima belas menit menurut jam dinding di atas papan tulis. Pak
Jaya sepertinya memiliki zona waktu sendiri, yang kadang-kadang lebih lama tiga puluh menit daripada jam dinding tersebut. Konsep relativitas waktu. Satu lagi bukti betapa Fisika dapat membuat kita takjub.
***
"Eh, ujian Fisika kapan sih?" tanya Wina. Siang itu mereka sedang makan siang di Balsem -- Balik Semak -- tempat makan yang terletak di antara Fasilkom, FISIP, Psikologi, dan Sastra. Balsem sangat populer di kalangan anak-anak Fasilkom. Alasan utama
adalah pemandangannya yang cukup 'menyegarkan.' Tidak jarang ada selebriti, yang juga mahasiswa -- atau mahasiswi -- FISIP, Psiko, atau Sastra, terlihat nongkrong di sana. Yang bukan -- atau belum menjadi -- selebriti pun tidak kurang 'selebritis'-nya dalam hal penampilan. Alasan kedua adalah tidak adanya tempat makan lain di sekitar kampus Fasilkom, selain Warteg Atun, yang letaknya cukup jauh.
"Aduh, tidak! Jangan ngomong-ngomong Fisika deh!" protes Karina.
"Fisika? Fisika apa ya?" timpal Bagus.
"Kalian tuh ya, sampai kapan kalian mau menghindarinya? Sebentar lagi kan ujian akhir semester," kata Ana.
"Iya ya?" kata Komar, pura-pura bego.
"Iya! Minggu depan sudah minggu tenang. Setelah itu ujian selama dua minggu." Fani mengeluarkan secarik kertas dari tasnya. Jadual ujian.
Wina ikut melihat. "Wah, untung deh, Fisika terakhir! Berarti masih tiga minggu lagi kan."
"Tuh kan, masih lama," kata Komar. "Pantas gue nggak nyadar."
"Sepertinya gue fisikafobia nih," kata Ana.
"Gue juga," kata Karina. Bagus menatapnya.
"Elu bukannya semua-mata-kuliah-fobia?"
"Sialan lu!"
"Yang lain gue masih bisa deh," kata Ana. "Tapi Fisika ini -- aduh! Mau mati rasanya! Kalkulus juga sih. Tapi masih lebih parah Fisika."
"Hidup Fisika!" kata Bagus sambil mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Tukang soto, yang sedang mencari-cari pemesan sotonya tadi, bergegas menghampiri.
"Tadi pesan soto ayam ya, Mas?"
"Eh, nggak tuh, Mas," jawab Bagus. "Kita lagi ngomongin Fisika kok, bukan soto."
"Bikin soto perlu Fisika juga lho, Mas," kata si tukang soto tidak mau kalah.
"Kok bisa?" tanya Komar.
"Nggak tau sih, saya kan asal ngomong aja." Dan si tukang soto pun ngeloyor pergi, melanjutkan misinya mencari sang pemesan soto ayam.
"Lega deh gue," Komar tertawa. "Kirain tukang soto lebih cerdas daripada gue!"
"Sebenarnya sih, Mar..."
***
Dan dua minggu pun berlalu. Setelah Bahasa Indonesia, Pancasila, Bahasa Inggris, Agama, Konsep Pemrograman I, dan Kalkulus I, akhirnya yang tidak ditunggu-tunggu pun tiba. Ujian Fisika I. Tiga hari dari sekarang.
"Kenapa ya Tuhan menciptakan Fisika?" Komar berbaring di ranjang Anto. Lembar-lembar fotokopian Fisika yang tadi sore masih hangat dari mesin fotokopi kini nampak lusuh di tangannya.
"Salah satunya supaya kita tidak gelap-gelapan sampai sekarang," jawab Kerempeng dari sudut ruangan. Ia meraih kotak rokok di atas meja, mengeluarkan sebatang, dan menyulutnya.
Anto memberinya pandangan tidak setuju. "Jangan merokok di sini, Sul. Aku tidak tahan asapnya."
Kerempeng -- Samsul -- menatap Anto dengan pandangan memelas. "Aku juga tidak tahan, To. Stres nih gara-gara Fisika, musti merokok."
"Tenggang rasa dong, Peng!" kata Sisko. "Kasihanilah temanmu yang tidak merokok -- atau yang tidak punya rokok. Bagi satu dong!"
Kerempeng melemparkan kotak rokoknya kepada Sisko. "Aku di dekat jendela sini saja kok, To. Kipas angin itu arahkan ke sini saja."
Anto mengalah. "Sisko, pindah ke sebelah Samsul!"
Malam itu mereka berempat berkumpul di kamar kos Anto. Anto adalah satu-satunya di antara mereka yang cukup 'punya harapan' dalam ujian nanti. Rencana mereka semula ketika datang pukul tujuh tadi: Anto akan berusaha mengajari teman-temannya. Yang terjadi hingga pukul dua belas: Kerempeng bermain Solitaire di komputer Anto, Sisko bermain gitar di teras, Komar bernyanyi
semampunya -- sambil terus memegang fotokopian Fisika di tangannya, tanpa dibaca, tentu saja. Kemudian salah satu senar gitar putus dan komputer hang. Maka berkumpullah mereka kembali di kamar Anto.
"Ini gimana sih, To?" Komar menyodorkan lembaran di tangannya ke arah Anto. "Maksudnya apa?"
Anto membaca bagian yang ditunjuk Komar, lalu menatap temannya itu. "Ini fotokopian Kalkulus, Mar, bukan Fisika."
Kerempeng dan Sisko tertawa sampai terbatuk-batuk -- atau mungkin juga karena rokok di tangan mereka -- sementara Komar dengan gusar membolak-balik lembaran-lembaran di tangannya.
"Sialan! Dari tadi gue belajar Kalkulus ternyata! Untung cuma lima lembar ini, selebihnya benar Fisika."
"Maksud elu, dari tadi elu megang Kalkulus," kata Sisko membetulkan.
"Apalah," tukas Komar. "Ini benar-benar mematikan semangat! Sudahlah, gue bobok aja!"
Dan tidak lama kemudian ia benar-benar melakukannya, mendengkur di atas ranjang Anto. Anto mendesah, malam ini terpaksa ia merelakan ranjangnya dijajah. Kerempeng dan Sisko tidak kalah parahnya. Setelah menghabiskan dua batang rokok masing-masing, mereka beranjak untuk pulang ke kos masing-masing.
"Tunggu, Ko!" panggil Anto. "Aku ikut! Tidur di tempat kamu saja."
***
Keesokan siangnya Sisko dan Kerempeng sedang makan siang di Balsem ketika Komar datang sambil terengah-engah. Balsem tidak seramai biasanya karena banyak mahasiswa yang telah selesai ujian dan tidak lagi datang ke kampus.
"Kenapa kamu, Mar?" tanya Kerempeng.
"Fani barusan nelpon ke rumah gue. Untung kemarin gue bilang mau tidur di tempat Anto, jadi orang rumah ngasih tau. Terus dia nelpon ke kosnya Anto. Katanya dia baru baca forum, ada beberapa tugas KP I yang dibilang belum terkumpul."
"Memang," kata Sisko. "Untung punya gue ada."
"Punya gue nggak!" kata Komar kesal. "Padahal tugas gue ada di rumah. Dan elu tau sendiri gue udah ngumpulin. Kita kan sama-sama waktu itu."
Sisko mengangguk. "Mungkin terselip di Sekretariat. Kan Mbak Yeni lagi sibuk gitu waktu kita ngumpulin."
"Fani juga bilang gitu," kata Komar. "Makanya sekarang gue mau ke Sekretariat."
"Makan dulu, Mar," kata Kerempeng.
"Mana sempat?"
"Minum kalau begitu. Tampang elu kayak setan," kata Sisko menertawakan temannya. "Duduk gih. Minum aja teh gue, nanti gue pesan lagi."
Setelah meneguk teh dari gelas Sisko, Komar sedikit tenang. "Gue pikir-pikir, Ko," katanya, "sepertinya Fisika kita sudah tidak tertolong nih. Gimana ya enaknya?"
"Kalian kan tukang nyontek," kata Kerempeng.
"Nyontek itu alternatif terakhir, Peng," kata Sisko. "Waktu ujian mid kan kita sudah ketahuan. Kalau sampai kena lagi, gawat!"
"Iya," kata Komar. "Musti cari cara lain dulu."
Sisko berpikir keras. Anak ini sebenarnya cerdas -- layaknya mahasiswa Fasilkom pada umumnya -- namun selalu malas. Keluarganya tergolong sangat kaya dan ia merasa kuliah serius hanya membuang-buang waktu saja. Di pihak lain, semakin banyak mata kuliah yang
harus diulangnya karena tidak lulus, semakin lama waktu kuliah yang harus dijalaninya -- meskipun ia telah mempersiapkan diri untuk lulus lebih lama daripada teman-teman seangkatannya. Jadi baginya lulus mata kuliah tetaplah penting.
Tiba-tiba ia merasa mendapat ide. "Siapa yang tugasnya membuat fotokopi soal-soal ujian?"
Komar kelihatan cerah sejenak, kemudian berubah muram lagi. "Lupakan, Ko. Ujiannya kan lusa, pasti sekarang fotokopi soal-soal sudah aman di tangan Mbak Yeni atau siapalah itu."
"Benar juga," kata Sisko. "Tadinya gue pikir bisa saja kita buntutuin orang itu, trus kita berusaha ngintip soal-soalnya di tempat fotokopi."
"Ya sudahlah," kata Komar akhirnya. "Gue musti ke Mbak Yeni nih sekarang." Anak itu bangkit dan berjalan menuju kampus.
"Mudah-mudahan ketemu, Mar," kata Kerempeng.
"Makasih."
***
"Kamu yakin sudah mengumpulkan?" tanya Mbak Yeni.
"Yakin, Mbak. Waktu itu kan saya kasih ke Mbak," jawab Komar pasrah. "Keselip mungkin, Mbak. Kecampur sama tugas-tugas kuliah lain. Kan sekarang-sekarang ini banyak tugas yang dikumpulin ke Sekre."
Mbak Yeni berjalan ke mejanya di sudut ruangan Sekretariat, nyaris tidak terlihat dari bagian-bagian lain ruangan itu karena berada di balik lemari arsip yang besar. Di sebelah meja di atas lantai terletak tiga kardus berukuran sedang. Ketiganya penuh kertas-kertas. Wanita itu duduk di kursinya dan mengangkat salah satu dari ketiga kardus itu ke atas meja.
"Disket atau kertas?" tanyanya.
"Disket sama kertas," jawab Komar. "Tapi disketnya kan dikumpulkan ke asisten, Mbak. Lagian disketnya saya masih ada. Kertas --laporannya -- yang penting. Saya musti pulang kalau mau nge-print lagi."
"Ya sudah, kalau begitu kamu cari deh di antara tiga kardus ini, mungkin keselip. Aku ada kerjaan nih. Kamu di sini aja, nggak papa. Aku di meja depan."
"Iya, Mbak."
"Awas, jangan ngegeratak yang lain-lain ya," kata Mbak Yeni sambil berjalan menjauh, bercanda.
"Sip!"
Dengan harap-harap cemas Komar mulai membongkar kardus pertama. Isinya ternyata adalah tugas mata kuliah Mikroelektronika. Komar merasa ia pernah mendengar nama itu sebelumnya -- salah satu mata kuliah wajib -- namun ia sama sekali tidak punya bayangan mengenainya. Dengan rasa ingin tahu diamatinya beberapa lembar teratas.
"Oh, ini toh yang namanya Mikroelektronika. Sepertinya sama parahnya dengan Fisika," gumam Komar. Karena tidak mau mengambil resiko, ia memeriksa seluruh isi kardus itu satu per satu. Sambil lalu didengarnya Mbak Yeni keluar dari ruangan. Mungkin ke kamar mandi, pikirnya acuh tak acuh.
Dua orang lain masuk ke ruangan sambil berbicara. Komar mengenali salah satu dari suara mereka: Mbak Agnes, pegawai Sekretariat juga. Satu lagi entah siapa, mungkin salah satu mbak dari Perpustakaan -- Komar sama sekali tidak tahu nama-nama mereka, mengunjungi Perpustakaan Fasilkom pun Komar hanya sekali, ketika Orientasi Perguruan Tinggi. Ia meneruskan kesibukannya, sudah mulai putus asa karena belum juga menemukan tugasnya. Ia tidak lagi mempedulikan kedua wanita yang sedang bercakap-cakap dengan suara cukup keras itu. Hingga...
"Iya, ganti soal kok menit-menit terakhir. Sekarang aku terpaksa fotokopi lagi."
"Namanya juga dosen, Nes. Kadang-kadang kan semaunya sendiri. Siapa sih?"
"Dosen MIPA. Pak Jaya."
"Oh, yang tampangnya seperti profesor itu? Yang katanya jenius itu?"
"Jenius sih jenius..."
Terlindung di balik lemari arsip, Komar menahan tawanya. Kini ia sudah melupakan kardus-kardus di hadapannya. Seluruh perhatiannya tercurah pada pembicaraan kedua wanita itu.
"Ujiannya lusa. Padahal mesin fotokopi kita kan lagi rusak. Dua-duanya!"
"Yang satu kan sudah lama. Aku sudah berkali-kali lapor lho! Mungkin mereka mikirnya, toh masih ada yang satu ini. Eh, terus rusak juga."
"Aku sudah telepon tukang servisnya tapi yah, kamu tau sendiri kan mereka gimana. Intinya sekarang aku harus fotokopi di luar. Dan besok harus sudah siap supaya bisa diperiksa lagi sama dosennya."
Padahal katanya ini institusi pendidikan paling hebat di seluruh negeri. Tapi tentu saja saat ini Komar tidak peduli. Dengan tegang ia menunggu kata-kata selanjutnya.
"Mau aku kopikan, Nes? Aku kalau pulang kan selalu lewat tempat fotokopi."
"Makasih. Tapi nanti aku kopi di Flash aja deh. Soalnya kualitasnya harus bagus, namanya juga buat ujian. Flash sudah terbukti bagus. Dulu-dulu juga kalau mesin kita rusak, aku selalu fotokopi di sana. Nanti deh, sepulang dari sini aku ke sana."
Jantung Komar berdegup kencang sekali. Ia tahu letak Flash. Tempat fotokopi itu kurang populer di kalangan mahasiswa karena harganya cukup tinggi. Kualitasnya memang bagus namun mahasiswa biasanya lebih mementingkan kantong. Ia juga tahu pukul berapa biasanya Mbak Agnes pulang.
"Yeni mana sih? Lapar nih."
"Mungkin di kamar mandi, kita susul saja yuk."
Dan mereka berdua pun keluar. Komar menghembuskan nafas yang selama ini ditahannya tanpa sadar. Ia tidak peduli lagi akan tugas KP I-nya. Ujian Fisika jauh lebih penting. Dan kini sebuah rencana mulai terbentuk di benaknya. Cepat-cepat dibereskannya kertas-kertas di meja Mbak Yeni. Baru saja ia hendak beranjak keluar ketika didengarnya suara Mbak Yeni. "Kalian duluan deh. Aku musti minta tanda tangan Pak Darto dulu. Nanti aku susul."
Mbak Yeni masuk ke ruang Sekretariat, sendirian. Dengan lega Komar muncul dari balik lemari arsip.
"Ketemu, Mar?"
"Nggak tuh, Mbak. Nggak apa-apa deh, nanti saya coba ngomong ke asisten atau Pak Robert."
"Nanti aku coba cari lagi deh. Berapa orang yang dibilang belum mengumpulkan?"
"Tujuh," kata Komar, berusaha menyembunyikan ketidaksabarannya. Ia harus cepat-cepat memberi tahu Sisko dan Kerempeng akan rencananya. "Saya ke Pak Robert dulu, Mbak." Dan ia pun melesat keluar.
***
"Idenya bagus," kata Sisko. "Tapi gimana cara kita ngintip soal-soal itu? Begitu kita nongol di Flash, pasti Mbak Agnes langsung waspada."
"Bahasamu itu, Mbul! Waspada!" cibir Komar. "Makanya supaya dia nggak waspada, kita perlu bantuan orang dalam!"
"Orang dalam? Dalam sumur?" Kerempeng tertawa. "Memangnya elu kenal pegawai Flash, Mar?"
"Nggak sih," kata Komar. "Kalian?"
"Nggak," kata Kerempeng.
"Nggak," kata Sisko. Ia memandang melewati bahu Komar. "Tapi itu Karina datang."
"Huh? Apa hubungannya Karina sama Flash? Cowoknya kerja di sana?" Komar terkekeh.
"Karina belum punya cowok, tau!"
"Belum punya? Wah!" Kerempeng langsung bersemangat.
"Sst!"
Saat itu gadis itu tiba di samping mereka.
"Belum punya apa? Siapa yang belum punya?" tanyanya.
"Kerempeng belum pernah punya cewek," sambar Sisko cepat.
"Belum pernah punya tiga orang sekaligus," timpal Komar.
"Ngawur! Jangan dengarkan mereka, Karina. Aku ini pria setia kok."
"Yoi, setia dalam perselingkuhan." Komar tertawa terbahak-bahak melihat wajah Kerempeng yang merah padam.
"Sudah, sudah! kata Sisko. "Karina, kami punya misi buat elu."
"Misi?" Karina memandang ketiga temannya silih berganti dengan curiga. "Misi apa?"
"Begini. Elu fisikafobia kan? Elu cewek kan? Nah, misi ini cocok untuk cewek yang fisikafobia," kata Sisko.
"Hm," Karina semakin curiga. "Terus?"
"Nah, sekarang elu ikut kita ke Flash."
Komar dan Kerempeng mengangguk-angguk. Mereka mulai bisa menebak rencana Sisko.
"Eh, ngapain? Aku ada janji sama Ana. Mau belajar Fisika."
"Sudahlah, percaya deh sama Om. Pokoknya kalau misi elu sukses, elu nggak bakalan fisikafobia lagi deh!" kata Sisko dengan meyakinkan. Sisi manipulatornya mulai keluar.
"Oya? Kok bisa?" Karina mulai tertarik. "Gue mau deh melakukan apa saja, asal nggak fisikafobia lagi!"
"Apa saja?" Kerempeng tersenyum-senyum.
"Nggak termasuk itu!" tukas Karina. "Dasar Cirebon ngeres!"
"Lho! Berarti kamu juga ngeres. Kalau nggak, dari mana kamu tau kalau aku ngeres?"
"Sudah!" tukas Sisko tidak sabar. "Sekarang elu cari Ana deh, bilang kalau ada urusan mendadak, belajarnya terpaksa batal. Tapi jangan bilang apa-apa ya tentang misi kita."
"Iya deh."
***
Sisko, Komar, dan Kerempeng berdiri di samping mobil Sisko. Mereka berada di depan toko Flash, yang terletak di Jalan Margonda Raya. Mereka mengamati Karina yang sedang berbicara dengan seorang pemuda di dalam toko. Pemuda itu bernama Joko, salah satu karyawan Flash. Dasar nasib sedang mujur -- paling tidak itulah pikiran anak-anak itu -- saat itu ia sedang sendirian. Kedua karyawan yang lain sedang keluar sebentar.
Mereka memperhatikan Karina mengerahkan seluruh kemampuannya untuk merayu Joko. Tidak terlalu sulit karena sejak melihat Karina pertama kali, mata Joko langsung seperti tidak bisa memandang ke arah lain. Sebentar kemudian terlihat Karina dan Joko bersalaman. Lalu Karina berjalan ke arah mobil Sisko sementara Joko kembali ke dalam toko.
"Gimana? Beres?" tanya Komar gelisah.
"Beres dong! Cukup disenyumi, Mas Joko itu langsung klepek-klepek!" kata Karina bangga.
"Hebat!" kata Sisko. Ia melambai ke arah toko. Joko membalas dengan mengacungkan ibu jari.
"Kamu bilang apa saja?" tanya Kerempeng. Sejak tadi ia tidak henti-hentinya menatap Karina dengan takjub.
"Sesuai rencana kita dong. Nanti kalau ada orang yang ciri-cirinya seperti Mbak Agnes datang membawa soal-soal ujian Fisika, dia harus membuat fotokopi ekstra untuk kita. Kalau dia berhasil mendapatkan soal-soal Fisika itu, dia bakalan kita traktir. Di restoran mana pun yang dia mau, sepuasnya!"
"Sip!" kata Sisko puas.
"Terus dia bilang minta mentahnya aja, cerdas juga tuh orang," kata Karina lagi. "Gue bilang, 'atur aja deh, Mas!'"
"Sekarang kita tinggal mencari tempat strategis buat mengamat-amati," kata Sisko.
"Nggak usah dari sekarang," kata Komar. "Mbak Agnes kan baru ke sini setelah pulang dari kampus. Masih dua-tiga jam lagi. Balik ke kampus dulu deh. Gue musti ngurusin tugas yang hilang nih!"
"Oke, Bos!"
***
Kembali di Fasilkom, Komar sibuk mengurus tugasnya. Dengan bantuan Sisko sebagai saksi mata dan beberapa anak lain yang juga kehilangan tugas, akhirnya ia berhasil meyakinkan salah satu asisten bahwa mereka benar-benar telah mengumpulkan. Mereka berjanji akan mengumpulkan lagi keesokan harinya.
Masalah tugas beres, mereka jadi salah tingkah di kampus. Anak-anak 94 yang lain sibuk belajar Fisika. Mereka sempat berdebat apakah perlu memberi tahu teman-teman yang lain namun akhirnya memutuskan besok saja kalau soal-soal itu sudah di tangan. Lagipula banyak anak yang pasti tidak akan setuju dengan tindakan mereka. Maka mereka berpura-pura ikut belajar namun sungguh sukar karena
pikiran mereka terus kembali ke Joko, Mbak Agnes, dan soal-soal Fisika. Ketika anak-anak yang lain mulai curiga, akhirnya mereka memutuskan untuk menyembunyikan diri di tempat kos Kerempeng. Karina mereka tinggal di kampus karena di tempat kos Kerempeng wanita tidak diizinkan masuk dan Karina tidak mau ditinggal sendirian di luar. Diputuskan bahwa gadis itu bertugas memata-matai
Mbak Agnes ketika ia pulang nanti.
"Lagian elu kan pura-pura atau enggak, tetap saja nggak bisa belajar. Jadi anak-anak juga nggak bakalan curiga karena nggak ada bedanya," kata Komar, yang dijawab dengan lemparan sepatu bertumit tinggi.
Ketika ketiga anak itu kembali ke kampus pada pukul setengah lima sore, Karina melaporkan bahwa Mbak Agnes telah meninggalkan gedung Fasilkom. "Kalian lama sih!"
"Wah, maaf ya. Kerempeng tuh, pakai mandi segala! Biasa juga modal Axe doang!"
"Enak saja!"
"Ya sudah, kita susul saja ke Flash sekarang," usul Sisko.
Perjalanan dengan mobil Sisko menuju ke tempat fotokopi itu memerlukan waktu lima belas menit lebih lama daripada biasanya karena Margonda Raya mulai macet, seperti biasa pada jam pulang kerja. Di dalam mobil mereka berdiam diri saja karena gelisah. Ketika akhirnya mereka tiba di Flash, tidak ada tanda-tanda Mbak Agnes.
Tapi Joko ada di sana. Ia memberi isyarat bahwa wanita itu belum datang. Dengan lega anak-anak pun menunggu di mobil Sisko, yang diparkir di seberang jalan.
***
Hari berganti malam. Jam demi jam berlalu. Mbak Agnes belum juga muncul. Anak-anak mulai gelisah lagi.
"Jangan-jangan elu salah dengar, Mar!" tuduh Sisko. "Bukan Flash kali."
"Flash kok, gue yakin dua ratus persen!"
"Ada tempat lain nggak yang namanya mirip-mirip Flash?" tanya Karina.
"Ada Kid's," kata Kerempeng. "Tapi itu mini market, bukan tempat fotokopi."
"Lagian apa hubungannya Kid's dengan Flash?" tanya Komar bingung.
"Lho, Kid Flash? Wally West dari The New Teen Titans?"
"Yeee!!!" ketiga temannya berseru serempak.
"Mungkin Mbak Agnes pergi dulu ke tempat lain," kata Komar. "Dia kan dijemput suaminya. Mungkin suaminya sudah punya rencana lain. Soal-soal Fisika ini kan mendadak dia taunya."
"Mungkin juga," kata Sisko. "Kalian lapar? Kita makan dulu yuk!"
"Yuk!" sambut Kerempeng segera. Biarpun kerempeng, anak itu jarang bisa menahan lapar.
"Boleh," kata Karina. "Kan ada Mas Joko."