Siapa yang tak suka berteman dengan Fulan? Sahabatku yang satu ini sungguh berkualitas, kalau boleh meminjam istilah teman-teman perempuanku. Tiga puluh tahun umurnya, Fulan sudah menjadi seorang associate di sebuah firma hukum terkemuka dan jika gosip bisa dipercaya, sebentar lagi ia akan dipromosikan menjadi senior associate. Tentunya dengan kedudukan seperti ini, Fulan tidaklah berkekurangan dalam hal finansial.
Meskipun profesinya menuntut Fulan untuk sering kali bekerja lembur, ia selalu meluangkan waktu untuk berolah raga dan berlatih bersama grup musik amatirnya. Olah raga dan musik memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan temanku ini. Dan berdasarkan yang kudengar dari beberapa orang maupun pengamatanku sendiri, Fulan tidaklah memalukan dalam kedua bidang ini. Selain menguasai beberapa cabang olah raga, ia juga dapat memainkan beberapa alat musik. Bahkan sekali aku pernah mendengarnya menyanyi. Sama sekali tidak jelek.
Dari sisi penampilan pun Fulan bisa dibandingkan dengan pria mana saja. Wajahnya presentable, demikian istilah seorang kawan. Fulan tidaklah terlalu tinggi, namun posturnya yang tegap dan badannya yang cukup atletis memberi kesan lebih tinggi dari yang sebenarnya. Semua itu masihlah ditambah dengan rasa percaya diri yang selalu terpancar dari segenap gerak-geriknya, pengetahuannya yang luas, dan kemampuannya untuk menyampaikan maksud tanpa terkesan menggurui.
Jika atribut lahiriahnya sudah cukup untuk membuat orang lain, terutama kaum Hawa, kagum terhadapnya, kualitas lainnyalah yang sesungguhnya membuat Fulan sangat menarik. Ia selalu murah hati dan bersedia menolong siapapun. Ia juga adalah seorang pendengar yang baik yang mampu membuat orang merasa nyaman bercerita kepadanya. Dan yang paling kusuka darinya: dengan segala kelebihannya itu, Fulan tetaplah sahabatku yang rendah hati.
Maka ketika beberapa minggu yang lalu Fulan 'mengumumkan' bahwa ia baru saja putus dengan pacarnya, bergeraklah -- kalau tidak mau dibilang guncang -- dunia kaum perempuan di sekitarku.
"Eh, gue dengar Fulan baru putus? Benar, Gi?" tanya seorang teman yang tiba-tiba mengirimkan pesan pendek ke ponselku setelah sekian lama tidak ada kontak.
"Gia! Kok elo gak bilang-bilang sih kalau Fulan sekarang single?" tanya yang lain melalui kotak cakap maya.
"Gi, elo masih sering ketemu Fulan kan? Ajak-ajak dong kalau kalian jalan ke mana gitu," kata yang lainnya lagi, lewat surat elektronik.
Yang semuanya kubalas dengan senada, "Memangnya gue nyokapnya si Fulan?! Ya sudah, nanti kalau ada acara gue kasih tahu elo-elo pada."
Aku tidak bisa menyalahkan mereka. Lingkungan kami penuh dengan perempuan seusia yang dengan alasan masing-masing belum menemukan pasangan. Produk seperti Fulan ini termasuk edisi terbatas, demikian mereka sering berkilah.
Sepulang kantor malam itu, tiba-tiba aku merasa enggan untuk langsung pulang. Kuraih ponselku dan kupilih nomor Fulan.
"Ya, Gi?"
"Lagi ngapain lo?"
"Masih di kantor, lembur. Biasa, due dilligence."
"Lembur melulu. Makan yuk. Gue lagi di sekitar nih."
"Mmm..." Kubayangkan Fulan menggerakkan kursor ke sudut kanan bawah monitornya; temanku yang satu ini tidak suka mengenakan arloji. "Boleh deh. Dekat kantor gue ya? Gue harus balik lagi nanti." Ia menyebutkan nama sebuah rumah makan.
"Oke, dua puluh menit. See you."
Sejam kemudian, aku meletakkan gelas es teh lemonku dan menyulut sebatang rokok. Tidak seperti biasanya, Fulan tidak bereaksi apa-apa. Aku tahu meskipun ia tidak menyukai seorang perempuan merokok, Fulan tidak pernah protes secara langsung. Namun biasanya ia menunjukkan rasa tidak sukanya dengan perubahan ekspresi kecil di wajahnya, misalnya dengan merapatkan bibir. Malam ini tidak ada tanda-tanda itu, Fulan tampak cerah sekali.
"Tumben, sepertinya elo bahagia benar hari ini," godaku. "Padahal harus lembur."
"Ah, masa? Biasa saja kok." Namun secercah senyum tersipu lolos dari bibirnya.
"Ada apakah gerangan? Ayo, cerita sama Tante."
Fulan hanya tersenyum simpul. Pria ini memang terkenal dengan ekspresinya yang ekonomis. Sejenak pandangannya meneliti raut wajahku. Tiba-tiba, seolah-olah hendak mengalihkan pembicaraan, ia berkata, "Cowok SBK."
"Eh, apa?" Otakku berputar keras. SBK? Sebagai orang yang sering disebut gaul, aku belum pernah mendengar istilah itu.
"Itu buzzword sekarang ya? Cowok single, baik, Katolik? Akhir-akhir ini banyak banget yang bilang begitu."
"Bilang bagaimana?"
"Ya gitu, nanya apa gue punya teman cowok yang single, baik, dan Katolik. Minta dikenalkan."
"Cewek?"
"Iyalah. Kalau cowok yang minta, gue langsung kabur kali!"
"Oh, jadi menurut elo ada yang salah sama hubungan sejenis?" aku tersenyum. Aku tahu benar Fulan sangat tidak suka dianggap berprasangka.
Ia menggeleng cepat-cepat. "Gak, gak. Maksud gue... Yah, elo tahulah."
"Tapi kenapa kalau cewek yang nanya kok elo gak kabur juga?"
"Kok kabur? Mereka kan cuma minta dikenalkan. Yang selalu gue jawab, agak susah. Karena teman-teman gue sudah pada beristri-anak. B banyak, K lumayan juga. S-nya itu yang susah."
Aku menaikkan alis. "Terus elo gak nyadar ya kenapa mereka nanya begitu?"
"Wajar kalau gue bilang. Sendiri dalam iman itu gak enak. Kalau bisa memiliki kebersamaan dalam iman, kenapa juga harus sendiri-sendiri. Ya gak? Belum lagi masalah dengan keluarga masing-masing."
Aku tergelak. "Itu gue ngerti. Tapi bukan itu maksud gue. Elo gak nyadar kenapa mereka nanya begitu ke elo?"
"Memang apa salahnya dengan nanya ke gue? Gue kan teman mereka." Ia menambahkan dengan senyum bangga yang dibuat-buat, "Gue kan suka menolong teman."
"Dan elo juga single, baik, dan Katolik," sambarku, dengan penekanan pada setiap kata.
"Oh? Tapi kan... Mmm..."
"Coba pikir deh, Lan. Elu kan lawyer, masa gak kepikir gitu? Kalau ada cewek yang minta dicariin cowok, apa tadi, es-be-ka...?" Fulan mengangguk. "...ke elo yang notabene es-be-ka juga, apa artinya?"
"Mmm..."
"Nomor satu," aku makin bersemangat, jarang-jarang Fulan kehabisan kata-kata, "mereka gak menganggap elo. Coba deh, misalnya elo sebagai lawyer diminta mengenalkan mereka ke seorang lawyer yang bagus, bagaimana perasaan elo?"
Fulan, sang lawyer, terdiam. Aku yakin ia tahu arah pembicaraanku.
"Nomor dua...?" aku memberinya pandangan bertanya, "nomor dua, gue yakin elo bisa ambil kesimpulan sendiri." Kuhisap rokok di sela-sela jariku.
"Tapi dari mana mereka tahu? Oke, gue memang sempat bilang ke beberapa orang soal putus kemarin. Yang lain?"
"Elo ganti status elo di Friendster kan?"
"Iyalah. Habisnya dulu juga gue ganti status gara-gara dipaksa." Fulan tersenyum pahit, aku yakin mengingat hubungannya yang baru saja usai.
"Elo gak tahu kalau zaman sekarang ini, status di Friendster itu sakti sekali? Mungkin lama-lama orang nikah gak perlu cincin kawin lagi, cukup ganti status di Friendster." Aku tertawa melihat wajah temanku.
"Mmm, tapi tetap dong. Gue kan..." Tiba-tiba ia meringis. "Yah, gitu deh..."
Kupukul lengannya. "Elo baru jadian lagi ya? Gak single lagi?"
"It's complicated." Fulan tertawa.
"Cerita sama Tante!"
"Gak ah. Complicated deh, serius!"
"Oke, oke." Aku memutuskan untuk berhenti mengganggunya. "Tapi tahu tidak, kadang elo tuh memang suka memberikan harapan palsu kepada cewek-cewek."
"Iya gitu?" Ia menampilkan raut wajah tak percaya namun aku yakin ia tentunya pernah memikirkan hal ini. Kalau ada seseorang yang sangat mampu untuk menunjukkan tanda-tanda menyesatkan, Fulan, dengan sifatnya yang selalu ramah, siap menolong, dan enggan menolak ajakan, adalah orangnya.
"Masukan saja, Lan. Merasa diberi harapan lalu tiba-tiba dijatuhkan itu sakit sekali." Kuketukkan rokok di mulut asbak, membuang abunya. "Gue pernah. Dan gak cuma sekali."
Fulan mengangguk-angguk. Ia meneguk habis es cappuccino-nya tanpa berkata apa-apa.
Aku mencondongkan tubuhku ke depan. "Jadi?"
"Jadi kapan kita nonton Superman Returns?"
Aku bersandar kembali dan tertawa. "Jangan akhir minggu ini deh, pasti penuh."
Seraya mendengarkan Fulan dengan bersemangat mulai memaparkan fakta-fakta tentang Superman, kuperhatikan diam-diam wajahnya. Sahabatku selama lebih dari sepuluh tahun. Sahabatku yang single, baik, dan Katolik.
Keesokan harinya, ketika aku masuk ke Friendster, kulihat status Fulan telah berubah menjadi In a Relationship.
Dalam hati aku mengutuki perempuan beruntung itu.
(Sekali-sekali bolehlah colek-colek sisi feminin.)
Lagi dengerin: Simple Plan - Perfect
Lagi ngerasa: gembira
Ali fulan anak jalanan
fulan guritno (kata HotShot,baru bubar sama Ananda)
Kalo jalan fulan-fulan dong!
hmmm gimana kalo kita jalan jalan ke fulan the IT Mall ... :) ...
Boleh. Asal nggak pake fulana dalem di luar aja ya.
Fulan sabit di awaaaannn...laksana prahu emas..
(ahhh, terlalu gampang; cari yang laen)
Fulankan sajaaaa, aku pada ibuku atau ayahkuuu
(hmm..kurang oke; apa lagi, ya?)
Gue pikir SBK itu Susilo Bambang Kudoyono. Hampiir aja gue sms presiden, mo ngadu ceritanya.
Ampe terharu gini gua kan :))
Template udah gua ubah, udah bisa komen dari kantor nih, dun pray pray hor!
ini layout yang bafu, bifu sekali yah.
lebih suka layout pertama
btw, ini posting dari laptop baru loh!
Anak gue dah seneng nyanyi..
Fulanku ada lima..
Lupa-lupa walnanya..
Weeehhh, laptop baruuu!!! Mamam-mamam tak?
Jadi elo itu Tante-nya Fulan?
yuk mamam.
elu yang traktir, yak?
Traktir giman man, wong indomi aja abis gini kok.
Kalau butuh cewek janda,abg,mahasiswi,smu,smp yang cakep dan montok wilayah jakarta hub gue di HP 081906468572
Kalau butuh cewek janda,abg,mahasiswi,smu,smp yang cakep dan montok wilayah jakarta hub gue di HP 081906468572
Kalau butuh cewek janda,abg,mahasiswi,smu,smp yang cakep dan montok wilayah jakarta hub gue di HP 081906468572









