Jika engkau cukup jeli, kau pasti akan dapat menduga rekan sekerja mana yang baru saja menyampaikan surat pengunduran dirinya.
Berdasarkan premis di atas, aku dan Jeffrey memulai permainan kami lima tahun yang lalu. Permainan kami ini sederhana saja. Jika ada seorang rekan sekantor yang mengundurkan diri, yang mengetahuinya lebih dahulu di antara kami berdua berhak menuntut ditraktir di tempat pilihannya oleh yang lain. Jeffrey adalah sahabatku pada masa kuliah dahulu dan setelah lulus nasib membawa kita bekerja di kantor yang sama, divisi yang sama. Tahun ini adalah tahun kedelapan kami bekerja di tempat ini dan kedudukan sementara adalah 10-9 untuk Jeffrey.
Kedudukan yang seharusnya adalah sebaliknya -- seandainya saja minggu lalu aku sedikit lebih tajam. Hari itu, Listia datang ke mejaku. Sambil tersenyum jahil, ia meletakkan setumpuk map di hadapanku.
"Apa ini?" tanyaku kesal. Aku sedang memeras otak, berusaha menyelesaikan materi presentasi untuk besok.
"Connie nyuruh gue ngasih ini ke elu." Connie adalah atasan langsung kami.
Tanpa semangat aku mengambil map teratas dan melihat isinya sekilas. "Aduh, tolonglah. Ini kan kerjaan dia!"
"Salah. Sekarang ini kerjaanlu." Dengan senyuman masih tersungging, Listia pun meninggalkanku.
Jeffrey, yang duduk di seberangku, menjulurkan lehernya. "Kerjaan baru, Lan?" Aku mengangguk kesal, lalu menggeser tumpukan map itu ke samping dan berusaha mengembalikan konsentrasi.
Sahabatku terkekeh. "Selamat ya. Mungkin sebentar lagi elu bakal dikasih promosi."
Eh, promosi? Segera kuambil map teratas tadi dan kubaca isinya dengan lebih teliti. Kuambil beberapa map lainnya secara acak. Mendadak aku duduk tegak. Jangan-jangan... Kusembunyikan senyum. "Ah, cuma pekerjaan ekstra," jawabku dengan suara kubuat terdengar kesal. "Kayaknya Connie ngira gue mesin presentasi."
Walaupun kini aku yakin Connie telah mengundurkan diri, aku tidak mau gegabah. Peraturan permainan kami menyatakan bahwa yang membuat tebakan salah juga diharuskan menraktir, sementara angka akan menjadi milik yang lain. Pernah terjadi beberapa kali sebelumnya. Sebuah rencana kecil terbentuk di benakku.
Dua hari kemudian, Connie memanggil aku dan Jeffrey melalui interkom. Ini yang kutunggu-tunggu. Aku bergegas menuliskan nama atasan kami itu di atas selembar post-it dan melipatnya. "Jep," panggilku.
"Ya?"
"Gue tahu siapa yang abis resign." 10-9. Kuletakkan post-it terlipat di atas mejanya.
Di luar dugaanku, Jeffrey tersenyum dan berkata, "Gue juga." Ia pun mengambil post-it dan menuliskan sesuatu. Sambil beranjak pergi, dimasukkannya kertas terlipat itu ke dalam saku kemejaku. Aku mengikutinya ke ruangan Connie.
"Jef, Lan, begini..." Sang atasan menatap wajah kami berdua. "Kalian kenapa senyum-senyum?"
"Tidak apa-apa kok," jawab kami berdua, kompak. Kami pun memasang raut muka serius. "Bagaimana, Con?"
"Begini. Aku tahu kalian berdua sibuk. Tapi sorry banget, aku musti minta tolong. Lan, kamu sudah baca berkas-berkas yang aku kasih dua hari lalu?" Aku mengangguk. "Bagaimana? Kamu sanggup mengambil alih pekerjaan itu?" Aku mengangguk lagi. Connie tampak puas. "Jef, aku minta tolong kamu juga membantu sebisanya."
"Aku tidak keberatan, Con. Tapi kalau boleh tahu, mengapa tiba-tiba begini?" tanya Jeffrey.
Connie merapatkan bibirnya. "Begini, mungkin kalian sudah mendengar bahwa dua hari yang lalu..."
Tanpa sadar, aku pun mencondongkan tubuh ke depan. Ya, Connie? Ayo, biarkan Jeffrey menraktirku.
"...Listia menyampaikan surat pengunduran dirinya. Aku akan mengambil alih pekerjaan dia..."
Penuh senyum kemenangan, Jeffrey memberiku isyarat dengan menunjuk saku kemejanya.
"...jadi mau tidak mau kita semua harus bekerja ekstra. Aku sudah minta..."
Dengan cepat kuintip lembar post-it di sakuku. Listia tertulis di sana, tentu saja.
Kembali di meja kami, Jeffrey hendak meraih post-it yang kutinggalkan di mejanya. Aku lebih cepat. Kuambil kertas terlipat itu, kurobek, dan kubuang ke tempat sampah di bawah meja.
Sahabatku menepuk bahuku dengan riang. "Shangri-La. Besok malam."
***
"Jep, bagaimana kalau salah satu di antara kita yang resign?" tanyaku sambil memperhatikan sahabatku itu menyantap sepiring bebek Peking. "Bagaimana peraturannya?"
Jeffrey mendongak. "Elu gak mau resign kan?"
"Cuma bilang aja..."
"Hmm, pertanyaan bagus. Marilah kita pikirkan sembari makan." Dan fokusnya pun kembali ke piring di hadapannya.
Setengah jam dan beberapa piring sushi kemudian, Jeffrey berkata, "Gue tahu. Kalau gue mengundurkan diri dan elu gak tahu sampai hari terakhir gue di kantor, gue menang."
Aku mempertimbangkan ide ini. "Boleh juga. Supaya lebih menarik lagi -- berhubung ini berarti permainan kita berakhir karena kita tidak lagi sekantor -- kalau gue tahu bahwa elu mengundurkan diri sebelum hari terakhir elu, gue yang menang."
"Setuju." Kami pun berjabat tangan. "Nah, beres kan? Mari kita lanjutkan santap malam yang nikmat dan gratis ini."
"Tapi, Jep," kataku, "kita kan sudah sobatan segitu lamanya, kerja di kantor yang sama segitu lamanya juga. Masak sih kita tega menyembunyikan fakta itu hingga saat-saat terakhir?"
Rupanya hal ini tidak terpikir oleh Jeffrey. Ia meletakkan sumpit di tangan dan memandangku. "Benar juga. Delapan tahun ya, Lan?"
"Delapan tahun. Dengan segala suka dan dukanya."
Kami berdua saling berpandangan selama beberapa saat.
"Bodo ah. Demi permainan," akhirnya aku berkata sambil tertawa.
"Demi permainan!" Jeffrey menyeringai dan mendentingkan gelasnya ke gelas yang kupegang.
***
Aku tidak pernah secara serius memikirkan kemungkinan Jeffrey akan keluar dari perusahaan ini. Ia sepertinya begitu menyukai suasana kerja di kantor kami. Sangat berbeda dengan mejaku yang terbilang bersih dari sentuhan pribadi, meja Jeffrey dihiasi berbagai benda pribadi yang kian hari kian bertambah banyak.
Salah satu benda yang paling menonjol adalah sebuah figur Spider-Man berukuran asli yang berdiri di samping mejanya. Staf baru yang mencari Jeffrey akan mendapatkan petunjuk, "Cari saja yang mejanya dijaga Spider-Man." Sungguh sulit membayangkan bahwa suatu hari nanti Jeffrey dan figur Spider-Man-nya akan meninggalkan kantor ini. Mengutip sebuah ungkapan populer, kantor kami tidak akan pernah sama lagi.
Namun sudah beberapa hari ini aku merasa ada yang berubah pada diri sahabatku. Di mataku, Jeffrey yang selalu riang sekarang nampak lebih riang lagi. Awalnya aku tidak berpikir macam-macam meskipun -- sebagai pengamat pengunduran diri -- aku tahu benar bahwa "nampak lebih riang" adalah salah satu ciri khas karyawan yang baru saja mengajukan pengunduran diri. Di benakku, Jeffrey adalah orang terakhir yang akan hengkang dari kantor ini.
Hingga suatu hari aku tidak sengaja melihat Jeffrey menghapus koleksi MP3 di laptop-nya -- laptop kantor yang dipercayakan kepada kami.
"Lho, Jep, kok dihapus?"
"Bosan," jawabnya sambil meringis. "Lagian itu kan MP3 ilegal."
Aku tertawa dan mulai menduga-duga dalam hati. Jeffrey? Mengundurkan diri?
Mengapa tidak?
Minggu berikutnya aku menanyainya terus terang pada saat makan siang. "Jep, elu resign ya?"
Aku nyaris tertawa melihat perubahan ekspresi wajah sahabatku. Terlihat jelas betapa ia berpikir keras, mencari jawaban yang tepat. Akhirnya ia memutuskan bahwa kejujuran adalah jalan terbaik. Sambil tertawa malu, ia berkata, "Iya. Sial! Kok elu bisa tahu?"
"Canggih. Kapan nih hari terakhir?"
"Selasa minggu depan. Sorry ya, Lan, gue gak bilang-bilang. Gue gak mau dong akhirnya kalah dari elu." Jeffrey tertawa. "Sial ah! Gue masih gak percaya kalau ketahuan!"
"Demi permainan ya?"
"Begitulah. Oke deh, " katanya pasrah, "kapan dan di mana?"
Aku tersenyum lebar. "Planet Hollywood. Kamis besok."
"Baiklah, Sobat. Jadi sepuluh sama ya?"
"Sepuluh sama."
***
Makan malam terakhir kami berdua sebagai rekan kerja berlangsung penuh emosi. Masing-masing merasa ada banyak yang perlu diungkapkan namun tidak tahu cara mengungkapkannya tanpa membuat suasana menjadi canggung. Akhirnya kami berdua lebih banyak diam sambil menikmati porsi masing-masing.
Akhirnya Jeffrey tidak tahan. Setelah menelan kunyahan terakhirnya, ia membuka suara, "Delapan tahun, Lan. Akhirnya waktunya datang juga buat gue."
"Selamat ya, Jep. Ngomong-ngomong, pindah ke mana lu?" Aku baru menyadari bahwa aku belum tahu pekerjaan baru sahabatku.
"Masih gini-gini juga kok. Cuma gue berharap minat gue di bidang bahasa bisa lebih tersalurkan." Ia menyebutkan nama perusahaan barunya -- sebuah perusahaan multinasional yang cukup ternama. "Sayang kantornya jauh dari kantor kita sekarang. Kalau gak kan kita bisa tetap makan siang bareng."
Aku hanya tersenyum.
"Terus terang, Lan, gue bakal kehilangan elu dan teman-teman yang lain," kata Jeffrey. "Memang kita masih tinggal di kota yang sama, masih bisa saling kontak, masih bisa ketemu sekali-sekali. Tapi yah, elu tahu sendiri bagaimana sibuknya profesi di bidang kita ini."
"Gue tahu banget!" Aku perhatikan wajah sahabatku. Matanya yang selalu bersinar penuh canda dan mulutnya yang nyaris selalu tersenyum. Oh, aku akan kehilangan dia, jelas. Obrolan kami berdua ketika makan siang. Ide-ide cemerlangnya. Mejanya yang dijaga oleh Spider-Man.
"Ha ha, sudah, sudah! Gue seram ini elu pelototin gitu!" Jeffrey mengangkat gelasnya. "Untuk persahabatan kita."
"Untuk persahabatan dan karir," sambutku, mengangkat gelas. "Semua yang terbaik buat elu, Jep."
"Sama-sama, Lan."
Kami mengosongkan gelas masing-masing.
"Ngomong-ngomong, Lan," kata Jeffrey sambil mengusap mulutnya dengan serbet, "kenapa Kamis malam? Kenapa gak Jumat seperti biasanya? Atau malah minggu depan?"
Aku memberi isyarat kepada pelayan untuk mengisi gelas kami. "Kenapa memangnya?"
"Yah, hari terakhir gue kan masih Selasa. Agak-agak antiklimaks gitu, besok kan kita masih ketemu lagi di kantor."
Aku mengucapkan terima kasih kepada pelayan dan mengangkat gelas yang baru saja diisinya. Jeffrey tersenyum dan ikut mengangkat gelasnya.
"Hari terakhir elu masih Selasa, Jep..."
"Betul."
"...tapi hari terakhir gue hari ini, Kamis."
Senyum Jeffrey menghilang. "Hari ter... Elu? Jadi elu...?"
Aku mengangguk dan tersenyum lebar penuh kepuasan. "Gue wanti-wanti Connie supaya gak kasih tahu elu, Jep. Sowwwyyy. Demi permainan kan?"
Sejurus lamanya sahabatku kehilangan kata-kata. Akhirnya tawanya pecah. "Lan, elu gila! Ha ha! Demi permainan, indeed!" Ia menyentuhkan gelasnya ke gelasku.
"Sebelas-sepuluh, Jep."
"Ya, ya, ya. Sebelas-sepuluh, kedudukan akhir! Elu menang, Lan! Sial lu ah!"
Tawa kami lepas berderai.
Oh, premis di atas? Terpatahkan sudah.
[Buat rekan sekantor gua yang baru aja resign: semua yang terbaik buat elu.]
Lagi dengerin: White Lion - Farewell to You
Lagi ngerasa: gembira
yak, khas dodol banget...
buntutnya ga keduga... :P
Senengnya dipuji penulis Kamar Cewek dan Cinta Pertama.
ck, tolong yah..
jangan bikin nabsu X-(
Senengnya bisa bikin nabsu penulis Kamar Cewek dan Cinta Pertama.
Renatha? Heiii, apa kabarnya? Ciyeh ciyeh, dah punya cem2an niy jadinya? Kenalin donk sama gw. Btw, bikinin template baru donk buat blog gue. Ntar gue kirim foto gue terbaru buat dipajang dey di blog gue. Yang ada comment nya juga yaah. Hehehe, dateng2 bawel dey gue. Makasiy yah sebelumnya.
Met taun baru, Renet!
Met Taon Baru juga, Ades.
Udah lama nggak pake Blogger nih, udah banyak berubah kayaknya. Kasih password elu deh, entar gua liat.
Gw udah curiga akhirnya ceritanya seperti itu. Apalagi pas ada pertanyaan"kenapa Kamis malam", the rest of the story jelas. Tapi teteup.. gw enjoy bacanya ;). Kadang masalahnya bukan ceritanya ketebak atau enggak (kan bukan cerita detektip), tapi penceritaannya asyik atau enggak.. :)
*dan yang ini penceritaannya asyeeeek.. ;)*
Senengnya (penceritaannya) dibilang asik ama kritikus Kamar Cewek dan Cinta Pertama.
Senangnya komentar gw bikin seneng pacarnya penulis Kamar Cewek dan Cinta Pertama.
Ck ck ck.. ini mau komentar apa pacaran sih? Yang komen ama yang njawab..
Please deh.. get a room please.. xixixi..
Salam kenal ya. Asik banget nih blognya, kreatif. booo
Waaa .. ternyata Spiderman bukan Peter Parket toh :-p Kalo kata Pak Tino: bagus, bagus!
Waaaa... layoutnya kinky! Spiderman strip tease!
Peter Parket itu temennya Donal Bebek dan Miki Tikus.
Kalo Gufi apa hayo?
100 hari lagi bakal ada film spiderman baru, opo opo ren ?
Weeehhh, nggak percuma elu cum laude, Son!
Bondol, tuh, udah dikasih tau Bison.
aaah, udah bikin buku juga. judul nya 'kamar cowok', gimana? hehehe....









