Masih ingat sahabatku Fulan? Hari ini, aku masuk ke situs Friendster karena mendapat pemberitahuan bahwa seseorang mengirimiku pesan. Mataku tertumbuk pada daftar teman yang baru saja memperbarui profil mereka.
Fulan adalah salah satu teman itu. Updated his profile, demikian tertulis.
Penasaran, aku pun mengakses profilnya. Hal yang pertama menangkap perhatianku adalah status temanku itu.
Male, 31, Single.
Single? Fulan? Pikiranku melayang ke perjumpaan kami kira-kira setahun yang lalu. Teringat akan perbincangan kita, yang -- aku yakin -- mendorongnya mengganti status di Friendster menjadi In a Relationship. Akan kegemparan yang menyusul dan senyum masam para perempuan di sekitarku.
Senyum masam yang juga sempat terpasang di bibirku.
Sejenak tanganku bergerak, hendak meraih ponsel. Akhirnya kuurungkan. Alih-alih, aku melakukan klik di atas tautan Send a Smile. Kukirimi dia pesan, "Woi! Putus lo? Gak bilang-bilang ih!"
Aku tidak mengharapkan balasan yang cepat karena setahuku Fulan jarang masuk ke Friendster. Namun kurang dari lima menit kemudian ponselku berdering -- salah, ponsel masa kini tidak lagi berdering -- memainkan Pachelbel's Canon. Nama Fulan terpampang di layar.
"Lan?"
"Gi?"
"Lan?"
"Gi?"
Aku tergelak. Masih juga Fulan yang kukenal. "Dodol lo, Lan! Sudah senior associate juga. Jadi? Bagaimana, kapan, di mana? Ayo cerita sama Tante!"
"Wah, Gi, apa lagi yang musti diceritain? Ya begitulah."
"Ini anak. Begitulah bagaimana? Perasaan kalian berdua tuh cocok banget. Baru setahun kan? Kok bisa?"
"Ya bisa, Gi. Namanya juga manusia."
"Tapi kalian itu keren sekali, Lan. Saling mendukung, saling mempengaruhi tanpa kehilangan jati diri masing-masing. Dua entitas yang berbeda, namun jelas saling terkait di belakangnya."
Giliran sahabatku yang tergelak. "Apa lagi? Membawa banyak hal pada dunia sekitar?"
Aku mengangkat bahu. Dan merasa bodoh sendiri ketika melihat bayanganku di cermin. "Kenapa, Lan? Kenapa?"
"Gak usah drama gitu ah. Tidak selalu hal yang bermula indah itu akan berakhir indah juga, Gi. Dan gue percaya bahwa memang ada beberapa pasangan yang tidak ditakdirkan untuk berpasangan."
"Duh. Jadi sekarang elo pengacara merangkap penyair paruh waktu nih?"
Fulan tidak langsung menjawab. Entah mengapa aku membayangkan dia mengangkat bahu di seberang sana. Aku tersenyum, berharap ia pun merasa bodoh sendiri.
"Gak tahulah, Gi. Gue sendiri terus terang bingung, musti merasa apa sekarang. Gue sedih banget. Tapi gue tahu gue gak boleh terus-terusan sedih. Di satu sisi gue tidak mau kehilangan dia, di sisi lain akal gue bilang memang ini yang terbaik."
"Mmm, gitu ya?" Aku, yang pada dasarnya memang tidak pandai menghibur orang, jadi ikut bingung. "Tapi serius, Lan, elo gak apa-apa? Elo boleh banget lho cerita ke gue. Kalau cuma mendengarkan gue jago, asal jangan disuruh kasih solusi ya."
Hening sekejap. Lalu, "Elo lagi ngapain, Gi?"
Aku menggelengkan kepala. Fulan banget sih, ganti subjek gak bilang-bilang! "Gak ngapa-ngapain. Baru siap-siap luluran." Kudengar tawa Fulan. Ia tahu aku tidak terlalu memperhatikan penampilan. "Kenapa ketawa? Perempuan itu harus merawat tubuh, tahu. Nanti kami gak cantik lagi, kalian cari sejenis."
"Ngopi yuk."
"Ngopi?" Kulirik jam dinding di atas meja komputerku. "Sudah jam sembilan begini?"
"Baru jam sembilan. Starbucks di Borders buka sampai jam sebelas."
Aku merasa senang. Fulan inilah yang kukenal: spontan dan gemar melakukan hal-hal di luar kewajaran. "Baiklah. Demi sahabatku tersayang."
"Sip. Dua puluh menit, di lobi apartemen elo. Jangan telat!"
"Eh, eh, lalu nasib luluran gue?"
Fulan terkekeh dan memutuskan sambungan.
Aku terlambat sepuluh menit -- tapi hanya karena aku lupa ponselku yang dengan seenaknya kulemparkan ke ranjang setelah pembicaraan dengan Fulan dan kemudian harus kucari-kucari. "Idung," kata Fulan ketika mendengar alasanku.
Tak lama, kami pun duduk berhadapan dan saling bertukar pandang di atas dua gelas plastik Frappuccino. Well, tidak semesra itu namun ini kan ceritaku.
Aku mengeluarkan kotak rokok dan merogoh-rogoh tas, mencari korek api. Tanpa dinyana, Fulan mengulurkan tangan dan menyalakan korek api di tangannya. Aku menatapnya takjub sementara ia menyulut rokok di bibirku. "Wah, Lan," kataku setelah isapan pertama, "elo gak jadi gigolo tante-tante di bar kan? Terlatih benar."
Fulan hanya tersenyum simpul. Dan aku lebih terkejut lagi melihat dia pun mengeluarkan kotak rokok. Ia mengambil sebatang dan menyalakannya, diiringi pandangan tidak percaya dariku.
"Lan? Halo, ini elo? Sejak kapan?"
Fulan meraih asbak dari meja sebelah yang kosong dan meletakkannya di antara kedua gelas plastik kami. "Sejak SMP."
Kutumbuk lengannya. "Maksud gue, sejak kapan elo mulai merokok lagi? Elo kan bangga banget karena sejak lulus SMA belum pernah merokok sebatang pun lagi."
Sahabatku bersandar di kursinya. "Ya begitulah," katanya tanpa memberi penjelasan. Aku sengaja berdiam diri, memancingnya untuk bercerita tentang hubungannya yang gagal.
Fulan berkata, "Fantastic Four yang kedua sepertinya bagus." Aku menghela nafas panjang.
Menit-menit berikutnya kami isi dengan perdebatan sengit tentang siapa yang lebih hebat: Batman atau Spider-Man. Fulan, dengan argumen-argumen logis ala pengacara, memilih Batman, yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan kekayaan berlimpah. Menurutnya, jika ada alat yang bisa dibuat, Batman akan dapat segera memilikinya. Aku bertahan dengan gigih -- tanpa alasan yang terlalu logis -- karena menurutku Spider-Man lebih membumi dan lebih berperasaan.
"Spidey punya indera laba-laba," kataku akhirnya, mendekati putus asa. "Apapun yang dilakukan Batman, Spidey bisa menghindarinya."
"For the sake of arguing, Gi, kalau Batman memang ingin mengalahkan Spidey, ia tidak akan menyerang langsung. Ia akan mencari orang yang disayangi Spidey dan memasang perangkap."
"Spidey juga bisa melakukan hal yang sama," balasku, tidak mau kalah. "Spidey akan menculik kekasih Batman."
Fulan tersenyum pahit. "Siapa sih kekasih Batman?" Aku terdiam. Siapa ya? "Gi, Batman itu sudah menutup hatinya dari cinta. Itu yang membuat dia jadi superhero yang tangguh. Dia tidak bisa diserang dari sisi kemanusiaannya."
Aku tertawa dan melontarkan tangan ke udara. "Terserahlah, Lan. Gue tetap akan membela Spider-Man mati-matian, apapun hasil akhirnya. Gue cinta mati sama dia."
Tanpa kuduga, sahabatku terdiam. Sesaat kemudian, ia menghenyakkan tubuh di kursinya dan menghembuskan nafas dengan keras. "Mungkin gue juga musti begitu ya, Gi? Berusaha lebih keras dan mengikuti kata hati. Walaupun gue tahu itu bukan jalan terbaik. Walaupun gue tahu pada akhirnya gue akan kalah."
Wah, apa ini? "Eh, coba, coba, apa tadi?"
Fulan menatapku. "Sori ya, Gi, gue gak bisa cerita tentang kenapa gue sama dia putus. Tapi gue bisa bilang bahwa kadang gue merasa gue gak berusaha terlalu kuat. Gue selalu berpikir, ini secara logika tidak bisa diteruskan. Tidak ada gunanya."
Aku mengangguk. "Elo orangnya terlalu logis." Fulan hanya meringis dan meraih gelasnya. "Gue rasa sih di bidang elo sekarang, elo sangat perlu logika. Tapi gue yakin perasaan itu juga perlu, Lan. Kadang kita perlu mendengarkan yang ini..." kusentuh dada kiriku, "dan gak cuma yang ini..." kutunjuk dahiku.
Sahabatku mematikan rokoknya dan mengambil sebatang lagi. "Jadi bagus kan gue merokok? Itu tandanya gue mulai mendengarkan kata hati."
"Atau elo cuma ingin menghukum diri."
"Mungkin."
Untuk sesaat, kami sibuk dengan pikiran dan rokok masing-masing. Sambil tersenyum, kuperhatikan wajah Fulan. Ia tampak tidak menyadarinya. Aku yakin ketika ia membuka mulutnya, lagi-lagi ia akan mengucapkan sesuatu yang tak terduga.
Ia tidak mengecewakanku.
"Jadi, kenapa elo masih single, Gi?"
Aku yakin aku sempat terbengong sesaat, sebelum akhirnya berhasil memaksakan diri untuk tertawa. "Wah, gak tahu ya! Elo sih, gak nyariin gue cowok -- apa itu dulu? Es-be-ka?"
Fulan menggelengkan kepala dengan serius. "Susah, Gi. Seperti dulu gue bilang, B banyak, K lumayan juga. S-nya itu yang susah."
Aku berhasil menahan mulutku tepat pada waktunya.
Seorang gadis muda dengan seragam Starbucks mendekati meja kami. "Maaf, ada pesanan terakhir?"
Fulan meraih ponselnya dan memeriksa jam -- sahabatku masih tidak suka mengenakan arloji. "Elo, Gi?" Aku menggeleng. Ia menjawab sang pelayan sambil tersenyum, "Tidak, terima kasih." Sang gadis pun berlalu tanpa lupa menampilkan senyum manis.
"Sebentar ya, Gi. Gue ke toilet dulu." Fulan mematikan rokoknya yang masih setengah batang dan berdiri.
Kupandangi punggung sahabatku sambil menikmati sedotan terakhir dari gelas Frappuccino-ku. Tanpa sadar, kuulangi kata-katanya tadi. Berusaha lebih keras dan mengikuti kata hati walaupun aku tahu pada akhirnya aku mungkin akan kalah.
Sahabatku dan Cowok SBK. Mungkin kau benar.
Disunting 15 Juni 07 06:49 WIB *jangan salah ya, gua juga bisa bangun pagi*
Baru nyadar kalo gua udah melakukan kopi-pasta tanpa tautan -- yang sepertinya merupakan dosa tak termaafkan di kalangan para pengeblog. Jadi sebelon dituntut, nih.
Lagi dengerin: Bon Jovi - Lie to Me
Lagi ngerasa: gembira
Ayo Fulan, ikuti kata hati!
*sambilmemelukFulan*
hehe...
yah, fulan nya nge-rokok lagi..
i hate smokers.
Eh, eh, peluk-peluk! Fulan apa yang bikin sakit, hayo?
Tenang, Rin, itu sementara doang kok. Fulan itu orangnya pelit, bentar lagi juga udahan ngerokoknya.
Fulankan sajaaaa, aku pada ibuku atau ayahkuuu... *deja vu nggak sih*
Aduh Dodol.. it's so nice of you.. :)
Bangun pagi2 demi bikin tautan buat gw.. Kayaknya cinta bener loe ama gw... HAHAHAHA..
BTW, gw tadi malah nggak ngeh lho loe udah "pasta kopi" (bahasa Indonesia hukumnya DM lageee.. ;)), gw terlalu deja vu nangkap inti ceritanya, sampai gak perhatiin detilnya ;)
Maklum, semaleman bobok nggak nyenyak, merasa berdosa.
BTW, pasta-kopi mah bukan DM kali. Enak juga kali ya sarapan pasta dan kopi.
mau duoong cowok esbeka ehehehe!!!
asikkk ada temen ngebull...
Lan, hangout bareng yuk!
Ternyata gua salah. Starbucks di Borders itu tutupnya jam dua belas. Malah kalo akhir pekan jam dua.
Fulan kalo pengen rokok lintingan dari amsterdam bilang sama oom ...
"Susah, Gi. Seperti dulu gue bilang, B banyak, K lumayan juga. S-nya itu yang susah."
Eh, gw baru ngeh arti SBK :)
Dan jadi ngeh juga kenapa bedak MBK itu banyak di pasaran. Married, B, K kan ;)
sbk apa sih oom..
Bondol, coba tanya Jeng May. Dia kan ngakunya udah tau sekarang.
Bondol, coba itu tautannya si Dodol dibuka satu persatu. Ada kok kepanjangan dari SBK. Ayo! Nggak boleh males! Anggap aja ujian. Boleh open book, tapi nggak boleh nanya jawaban temennya... ;)