Kata orang, jika engkau sedang membicarakan seseorang dan tiba-tiba orang itu muncul di hadapanmu, panjang umurlah dia. Aku ingin tahu, apakah hal ini berlaku pula jika engkau sedang memikirkan seseorang dan tiba-tiba...
"Gi!"
Aku menoleh dan mendapati sahabatku Fulan berdiri di samping kursiku. Fulan dan seorang...
"Ngapain lo?"
...perempuan muda yang cantik. Pakaiannya santai namun anggun. Di tangannya tergantung sebuah tas dengan merk yang terkenal mahal. Rambutnya panjang dan sedikit berombak. Bibirnya bersemu merah muda tipis. Singkatnya...
"Gi?"
...nggak Fulan banget deh, meminjam istilah teman-temanku di kampus dulu.
"Eh, sori, Lan. Elo ngagetin aja!"
Fulan tersenyum. "Kenalkan, ini Mel. Mel, ini Gia, yang sering aku ceritakan itu lho."
Aku bangkit dan menjabat tangan -- yang halus dan putih dan mulus, tentu saja -- perempuan itu. "Hai. Gia."
"Mel. Wah, akhirnya ketemu juga dengan Gia yang terkenal itu." Mel menampilkan sekilas deretan giginya yang putih dan rata.
"Terkenal?" Aku melirik Fulan, curiga. "Lan, elo gak cerita yang aneh-aneh kan?"
Fulan menjawab dengan senyuman jahil. Aku tak tahu maksudnya dan tidak terlalu ingin tahu. "Kita temani elo ya, Gi."
"Silakan."
Fulan menarik dua kursi kosong dan menjejerkannya di sebelahku. "Minum apa, Mel? Biasa?"
Mel mengangguk dan menempatkan dirinya di kursi sebelahku. Dua tas plastik dengan label merk ternama diletakkannya di lantai.
"Elo, Gi?" Aku menggeleng dan menunjuk minumanku yang masih setengah penuh.
Sepeninggal Fulan, aku dan Mel mulai mempercakapkan hal-hal kecil. Tentang profesi masing-masing. Tentang tempat-tempat belanja di kota ini. Tentang film terbaru di bioskop. Tentang seorang aktor muda baru-baru ini meninggal, diduga karena bunuh diri. Setelah beberapa saat, Mel melayangkan pandangan ke antrian di kasir yang cukup panjang, lalu mencondongkan badannya ke arahku.
"Gi, tanya dong. Elo kan sahabatnya Fulan."
"Ya?" Wah, apa lagi ini?
"Fulan itu, hmm... Bagaimana ya ngomongnya... Dia itu orangnya setia gak sih?"
Waduh! Untuk mengulur waktu, aku tertawa kecil. "Fulan setia gak ya? Sepertinya sih demikian."
"Benar, Gi?"
Aku mengangguk, sambil berusaha menduga arah pembicaraan ini. "Memangnya kenapa, Mel?"
Perempuan cantik itu tertawa sedikit gugup. "Ah, gak. Cuma memastikan. Sepertinya memang demikian..."
"Tapi?" Tidak perlu seorang pengacara seperti Fulan untuk tahu ada tapi yang tertinggal.
"Gak papa." Mel terdiam sesaat, seolah menimbang-nimbang seberapa bisa dipercayanya sang sahabat ini. "Gini, Gi... Tapi janji ya, jangan pernah beri tahu Fulan."
Seru nih sepertinya. "Janji."
"Fulan itu sepertinya terlalu sempurna, Gi. I mean, siapa sih yang gak senang punya pacar sempurna..."
Pacar!
"...cuma ya itu, dia itu terlalu sempurna. Sebagai sesama perempuan, Gi, masa sih elo gak cemas?"
"Cemas ya?" Aku tertawa. "Gak tahu deh, Mel. Selama ini pacar-pacar gue gak ada yang sempurna sih."
Mel terbahak. Dia tidak tahu bahwa aku hampir saja menambahkan, tentunya karena gue belum pernah pacaran dengan Fulan.
"Tapi seriously, Gia. Dia bisa dipercaya kan? Bukan tipe player kan?"
Aku pun memasang tampang paling seriusku. "Gue udah kenal Fulan belasan tahun. Dan selama ini, sepanjang pengetahuan gue ya, Mel, dia itu tidak pernah selingkuh. Kalau itu maksud elo ya."
Mel mengangguk-angguk dan menyandarkan punggungnya di kursi. Sepertinya dia cukup puas dengan jawabanku.
"Sori, lama. Antrinya panjang bener!" Fulan datang dengan sebuah nampan. "Mint Blend," katanya sambil meletakkan segelas teh di hadapan Mel. Ia sendiri seperti biasa membeli Frappuccino.
"So. What have you girls been talkin' about?"
"Oh, this and that. Gak ngomongin kamu kok, Sayang," jawab Mel, disertai oleh kerlingan nakal ke arahku.
"Oh ya?" Fulan menatap kami bergantian, curiga. "Gak mungkin banget!"
"Kok gak mungkin?"
"Cewek kan selalu suka comparing notes tentang cowok-cowok."
"Ge-er sekali!" tukasku, sementara Mel tertawa lepas. "Kebanyakan nonton film remaja lo."
Sejujurnya, aku cukup penasaran akan alasan Mel bertanya-tanya tadi. Maka ketika perempuan itu pergi ke kamar mandi beberapa saat kemudian, aku tidak membuang waktu.
"Lan, elo serius sama dia?"
"Mel?"
"Iyalah. Memangnya ada yang lain?" sambarku cepat.
Di luar dugaanku, Fulan tidak langsung menjawab. "Lan?"
"Jujur, Gi..."
"Silakan."
"...gue sayang banget sama Mel. Apa yang kurang coba? Cantik, seksi, penampilan terjaga, selalu jadi lirikan kaum cowok..."
"Nggak elo banget."
Sahabatku tertawa terbahak-bahak. "Menurutlo? Tapi dia baik kok, Gi. Dia selalu memperhatikan gue. Waktu itu gue sempat sakit. Dia bela-belain cuti cuma untuk merawat gue. Dia masak buat gue, Gi, bayangkan!"
"Ya, ya. Berbahagialah perempuan yang pintar memasak," kataku sedikit kesal. Fulan tahu benar betapa aku tidak tahu apa-apa tentang bidang yang satu ini. "Tapi?"
"Tapi?"
"Iya, tapi?"
Fulan meringis. "Entah kenapa, gue belum bisa lepas... Masih ada sesuatu yang membuat gue gak bisa sepenuhnya mencintai -- kalau ini cinta -- dia."
Aku menatap Fulan penuh selidik. "Bukan karena mantan elo itu kan, Lan?"
Tiadanya jawaban dari sahabatku sudah merupakan jawaban bagiku.
"Lan, bukannya waktu itu elo bilang elo sudah bisa melewati dia?"
Fulan mengembangkan lengannya. "Completely over her. Ready to move on."
"Jadi apa masalahnya?"
"Mmm... Sepertinya dia yang belum sepenuhnya over me."
"Bercanda lo, Lan."
"Gak. Kita masih suka saling kirim SMS. Waktu itu sempat chatting juga."
"Dan?"
"Dan dia masih suka memancing-mancing." Sahabatku mengangkat bahu. "Well, you know."
"Lalu? Elo bilang elo sudah bisa melewati dia. Apa masalahnya?"
Fulan tidak menjawab. Aku pun tidak mengharapkan jawaban. Kami berdua sama-sama tahu masalahnya.
Mel kembali dengan make up yang sepertinya telah diperbarui. Fulan menyambutnya dengan senyuman dan ia melingkarkan satu lengan di pundak sahabatku. "Missed me?"
"Not really." Atas jawabannya itu, Fulan mendapat sebuah pukulan lembut di atas lengannya.
"Lan, kita harus jalan. Masih mau cari sepatu lari buat kamu kan?"
"Oh iya. Gi, sori ya. Kita duluan nih."
"Gak papa. Gue juga sebentar lagi jalan. Ini lagi nunggu..."
"Hi, guys."
Mata sahabatku membelalak menatap pria tinggi berkulit putih yang berdiri di sebelahku. Aku buru-buru berdiri. "Lan, Mel, this is Roger. Roge, Fulan and Mel."
Jabat tangan menyusul. "Fulan, huh? That would be the he's-so-cool-he's-my-best-friend Fulan?"
Aku meringis. "In person."
"Dude, she barely stops talking about you! I'm so jealous, but what's a guy to do?"
Aku tak mengacuhkan pandangan Fulan. "Come on, Roge. We need to run. And so do they."
"Alrighty. Nice meeting you guys."
Sebelum kami berpisah, bergandengan tangan dengan pasangan masing-masing, Fulan masih sempat menyenggolku dan berbisik. Pelan dan hanya kami berdua yang mendengarnya.
"Nggak elo banget deh, Gi."
(Didedikasikan untuk seorang teman di belahan dunia sana yang sedang bingung menghadapi pertanyaan, "Aku tanya untuk terakhir kalinya: kamu yakin kamu mau aku lakukan ini?")
Lagi dengerin: Linear - Sending All My Love
Lagi ngerasa: berkabung
Keren...
Btw SBK apaan ya??
serial berseri ya ceritanya hehe..
okeh ditunggu SBK #4 nya.. :)
eh, maksudnya cerita berseri.. kok jd serial berseri ya gue nulisnya?? *lg tuing2 otaknya*











